Habis mbaca tulisan ini trus dilanjutin baca di sini yang keduanya membahas tentang “korupsi” terselubung DPR, disambung dengan membaca tulisan pak guru ini, tentang nasib guru yang harus rela “diperkosa” keadaan. Aku jadi berfikir kalau Indonesia itu memang negara yang aneh, karena semua banyak anggota DPR yang mungkin salah asuhan. Mereka mengartikan definisi “wakil rakyat” saja dengan sangat denotatif sekali, sehingga bukannya mewakili suara dan jeritan rakyat, tetapi malah mewakili rakyat dalam menerima berbagai dana dan tunjangan yang seharusnya bisa turun untuk rakyat.
Rakyatpun cuman bisa gigit jari.
Peningkatan kinerja?
Mungkin asal-muasal tunjangan-tunjangan yang diminta diberikan kepada anggota DPR adalah salah satu cara untuk menstimulus kinerja mereka, dengan harapan kinerja mereka bisa membaik. Termasuk juga dengan rencana bagi-bagi laptop untuk para anggota DPR yang dana pengadaanya mencapai Rp 12,1 miliar. Sebuah harga yang fantastis dikala rakyat tengah didera kepiluan akibat bencana yang datang silih berganti. Salahkah jika saya sebut hal ini dengan korupsi terselubung yang legal?
Tentu ingatan kita belum kering tentang peristiwa ini, yang ternyata sampai sekarang tak kunjung kelihatan hasilnya. Belum puas dengan itu, anggaran pengadaan laptop-pun diusulkan.
“Ini jangan dilihat dari sisi itu (bagi-bagi di tengah kesusahan rakyat). Tapi lihat dalam kerangka perbaikan kinerja dewan, kalau menteri saja didampingi profesor, masak kita ketinggalan terus. Ini untuk perbaikan DPR dari segi IT”, kata Diah Defawati Ande selaku Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.
(dikutip dari www.detikinet.com)
Masih percayakah kita dengan berbagai alasan yang disampaikan DPR? Mungkin sudah banyak masyarakat yang cenderung skeptis (termasuk saya
) dan sangat tidak bisa menerima alasan tersebut. Mereka, anggota DPR, hanya mengulang-ulang alasan dengan dalih untuk perbaikan kinerja, persis seperti alasan yang mereka ajukan untuk meloloskan agenda kunjungan kerja yang katanya (pula) untuk studi banding.
Laptop untuk pendidikan
Kenapa justru DPR yang gajinya sudah bejibun yang pantas diberi fasilitas laptop? Kenapa tidak dianggarkan saja untuk pengadaan komputer bagi sekolah-sekolah sehingga para guru bisa memanfaatkan teknologi informasi demi peningkatan mutu pendidikan? Atau dianggarkan untuk membelikan laptop bagi para guru teladan sehingga bisa menstimulus guru yang lain untuk bisa lebih berprestasi. Tentunya hal itu bisa membantu mereka untuk sedikit menghela napas diantara berbagai “pemerkosaan” yang dilakukan oleh kejamnya keadaan saat ini.
Ataukah memang bapak-bapak anggota DPR kita tidak ingin penerus bangsa ini jadi
lebih pintar dari bapakpintar? Apakah bapak-bapak juga tidak ingin untuk membantu meringakan beban para guru yang sekarang sedang berjibaku untuk sekedar bisa meluluskan muridnya dalam ujian nasional?
Bahkan sangat ironis sekali ketika ada beberapa guru yang harus menggadaikan gelar pahlawanya untuk terpaksa bermain kotor dalam manipulasi hasil ujian, sedangkan dilain pihak, para oknum DPR dengan santainya (akan) menerima berbagai tunjangan yang tak kunjung kelihatan hasilnya. Salah satunya hadiah untuk bisa bermain Tukul-tukulan ala 4 mata. Bisa dibayangkan ketika pengadaan laptop itu benar-benar terwujud, maka suasana rapat DPR-pun akan diselingi ucapan khas Tukul, “Kembali ke lap-top”.
Sudahlah pak, kalau memang bapak ingin memperbaiki citra DPR yang kian merosot, alihkan anggaran pengadaan laptop itu untuk membantu guru terlepas dari “pemerkosaan”. Bapak-bapak pasti mampu beli laptop sendiri, gak perlu yang seharga 21 jutaan kalo cuma mau dipakai ngetik dokumen doang. Justru kasihan guru-guru yang terpaska harus ngernet jadi makelar ujian hanya karena gaji mereka pas-pasan (walaupun hal ini juga tidak bisa dimaafkan
).
Artikel lain yang berkaitan
Ersis Warmansyah Abbas | Guru Duh Guru, Gaji Memalukan? ::: Menceritakan beberapa dilema yang dihadapai guru, mulai dari gaji, sertifikasi, sampai kurikulum.




March 23, 2007 at 8:03 pm
Jadi anggota DPR kan modalnya besar…mulai dari bagi2 amplop ketika pemilu, dana kampanye sampai uang terima kasih sama pejabat2 lain
Jadi sangat wajar jika
merekabeliau-beliaumemaksa dan menuntutdiberi gaji dan tunjangan besar.Selain itu anggota DPR kan
katanyamemikirkan nasib rakyatkeluarga dan perut sendirisemua..memikirkan nasib bangsa dan negara kitaSedangkan guru kan hanya memikirkan segelintir anak-anak kecil (SD) dan anak-anak muda (SMP-SMA) jadi sudah sangat sepantasnya kalau guru terus-menerus diperkosa.
Lagian demonya guru kan gak merugikan negara karena paling guru kalau demo kan maksimal hanya mogok ngajar, itu juga kalau tega sama anak didik
Seangkan kalau anggota DPR demo kan bahaya, bagaimana nasib rakyat, bangsa dan negara ini kalau para anggota DPR mogok memikirkan rakyat, bangsa dan negara
……
Kini sang ibu (pertiwi) sedang lara…
*Indonesia..riwayatmu kini*
March 23, 2007 at 11:35 pm
KAbarnya ada beberapa yang menolak yah anggota DPR gak mau dikasih laptop, dia bisa beli sendiri. Tapi mudahan serius keluar dari nuraninya. Jangan sampai itu untuk sensasi, ujung-ujungnya yah mau juga nerima laptop itu.
March 24, 2007 at 5:15 am
duwh… pusing deh… mang para anggota DPR mau make buat apa? bukannya merendahkan atau meremehkan kemampuan para wakil… tapi apa mereka bisa makenya? ini dilihat dari segi usia lho ya…. kan kurang lebih usia wakil2 kita ituwh seumuran ma ortu d’… nah.. kebanyakan yang d’tau, usia2 sgtu g’tll bisa make kompie… bisa ngidupin trus matiin aja udah syukur….
March 24, 2007 at 5:54 am
Hei, jangan generalisasi
March 24, 2007 at 6:01 am
Uh, tepatnya, jangan stereotyping
Walau isinya sangat akurat…
March 24, 2007 at 6:09 am
deking:
kalo rakyat biasanya demo ke DPR, nha kalo DPR demo mo demo ke sapa? rakyat?
helgeduelbek:
mudah2an beberapa orang itu bisa mengingatkan yang laen..
koecing:
wah..ya ga gitu…tapi kalo kebanyakan mereka ga bisa mengoperasikan komputer, paling akan ada dana yang diajukan untuk mengadakan kursus memakai laptop di luar negeri
Mr. Geddoe:
Harapanya yang tidak merasa dengan sindiran ini, bakal mengingatkan temenya yang laen. tapi saran mas geddoe patut dipertimbangkan
March 24, 2007 at 6:43 am
hehehe.. asyik dong… skalian jalan2. klo misalnya k LN, ada uang saku juga g’kak? klo iya, mending drmu jd anggota dpr aja… dapet laptop gratis + jalan2 k LN. tp ngliat latar belakangmu, jangan2 malah drmu yang disuruh jd trainer. tapi sapa tau trainingnya tetep d LN…
klo d’yang ngajarin bisa2 masuk bui ya kak? orang ma ortu aja dicap anak durhaka saking galaknya ngajarin..
March 24, 2007 at 8:14 am
ooo mau pada ngeblog kali mereka? masa blogger doang yg bisa ngerasani mereka, yuuk kita suruh ngeblog di WP abis itu kita ajarin giimana caranya tepo seliro… ala blogger
March 24, 2007 at 9:32 am
Piye yo? Aku percoyo kok.
http://kholimi-id.blogspot.com/2007/03/laptop-dpr.html
March 24, 2007 at 5:44 pm
Anggota DPR itu nggak salah, mereka cuman kebacut kok
dengan asumsi mereka (bold quoted italic underlined)jujur(/)
sebenarnya alasan mereka itu masuk akal.
Cuma menurut saya kebacutnya, kok mereka gak beli sendiri? yang bilang gak mampu berani gak ngebuktiin kalo mereka gak mampu beli laptop? kalo bohong entar mereka harus pindah agama
dan kalo memang TERPAKSA negara lagi yang membiayai laptop mereka, berarti laptop itu harus dikembalikan kalo mereka udah nggak njabat hehehe (kalo ketauan ninggal bokep atau virus langsung diekspos dan didenda
)
March 25, 2007 at 1:28 am
Minimal orang-orang DPR mau dan mampu memperjuangkan kepentingannya, bagus saja kan. Bandingkan dengan guru, mana perjuangan dan hasil perjuangan guru untuk dirinya dan pendidikan dalam katup nasional?
Bagaimanapun usaha itu baik, soal pantas, mau enak dewe itu soal kepribadian dan wawasan kelompo. Bagusnya guru meniru dong ‘gaya’ orang-orang DPR/DPRD. Jadilah ‘pemain’ memajukan bangsa bukan sekedar ‘pelaksana’. Nah, berjuang memang berat, tapi kalau mengeluh sangat mudah memang. Janan didik generasi muda bangsa dengan modus keluhan dan mengeluh.
Bagaimana menurut Sampeyan?
March 25, 2007 at 4:53 am
lagi.. lagi bqin ulah…
nonton or baca berita gini jadi mangkel,.. gregeten…
peningkatan fisikkkkk… mulu.
mbok ya peningkatan kualitas moralnya juga diperhatikan.
March 25, 2007 at 12:33 pm
di gedung DPR ada WiFi ya pastinya?
hehe..ati2 lho…ntar isi blog ini dibaca sama si dewan yang
tidakterhormat itu…ati2 lho mas kaki langit!huakaka….
*kabur dulu ahhh*
March 25, 2007 at 3:29 pm
koecing:
)
Iya… (tapi mudah2an gak
Evy:
Wah jangan bu, nanti pas sidang mereka malah blogwalking
Ali S Kholimi:
jangan terlalu khusnudzon mas, nanti kecewa lo…
mardun:
sepakat kalo laptopnya juga jadi inventaris DPR. jadi nanti tuh laptop dikasih plat merah
Ersis Warmansyah Abbas:
tapi setahu saya, yang harus diperjuangkan oleh para anggota DPR itu ya kepentinganya rakyat-e mas, bukan malah kepentinganya dia sendiri. Kalo gutu, sering minta gajinya dinaikin tapi
gakjarang pernah kesampean.Kita semua memang harus mendoakan mudah2an maksdu anggota DPR itu benar dan dilakukan demi kemajuan bangsa dan negara.
Licha:
Hihi…dinikmati aja mbak licha…namanya juga hiburan. kayak disenetron2 itu, pasti ada adegan yang bikin mangkel
antobilang:
ada yang baca gak ya…
wah…iya ya…
Hehehe… tapi kalo ada, mudah2an mereka bisa ambil hikmahnya
March 25, 2007 at 4:11 pm
Kamu udah baca kebaik-sangkaanku kepada anggota DPR kan
)
March 26, 2007 at 12:52 am
ehem… ehem…
Enak banget ya provider IT-nya DPR…
Kalo ngikut tendernya caranya gimana???
March 26, 2007 at 7:18 am
Ali S Kholimi:
, mas, blog sampean itu pindah ke yang blogspot itu ya?
Sudah maharaja…
dnial:
Wah….loe harus ada hubungan khusus dulu Dan
March 26, 2007 at 7:53 am
oke…baik anak-anak…duduk yg manis ya…
ayo ngacung siapa yang punya cita-cita jadi guru…
sekarang yang pingin jadi anggota dewan jg ngacung….
March 26, 2007 at 3:17 pm
wah udah positif tuh bagi2 laptopnya!
gile cing!
tahun 2009 jangan milih manusia2 busuk itu lagi ya…!!!
March 27, 2007 at 2:28 am
DPR ternyata orang miskin juga. Buktinya nggak bisa beli laptop….kayak saya…
March 27, 2007 at 4:08 am
wah pusing aku kalo ngomongin ini, nggak tedas di ureki kupinge. kenapa sekalian nggak minta jatah rumah, jatah istri dan jatah surga.
March 27, 2007 at 1:23 pm
rumahfrandi:
bukan saya pak guruuuuu…..
antobilang:
tapi denger2 dari koran pagi ini, katnya tuh laptop bakal jadi inventaris negara percis kayak usulnya mas mardun
adinur:
kalo (sebagian) mereka, jangankan ngeblog, firefox aja
minimal sampean lak iso ngeblog ta mas
gamungkin ga tau tuh makanan apaanpeyek:
waduh mas…kalo gitu saya daftar deh jadi DPR
March 27, 2007 at 5:14 pm
kalo saya ada di 2 tulisan ini :
Laptopku Diambil Mereka
dan
Terpaku pada Laptop
April 1, 2007 at 4:12 pm
salam kenal mas yusuf
April 2, 2007 at 3:33 am
Memang kedengarannya mengenaskan dimana pada saat orang “susah makan”, kok malah ada uang negara 12.1 M keluar utk pengadaan “gadget” yang satu ini.
Namun diluar itu, kita juga harus objective terhadap lembaga-lembaga lainnya, terutama dalam hal ini Eksekutif (baca: mentri). Sangat betul apa yg dikutip dari detik.com bahwa memang MP (Member of Paliament) harus memiliki semacam “nilai plus” selama dapat dipertanggung-jawabkan. Nah, yang menjadi masalah adalah bahwa kita terlalu mudah menunjuk hidung para orang-orang di legeslatif sementara para orang-orang eksekutif ketawa-ketawa didalam mobil dan ruangan kantornya yg dingin.
Kalau kata bandingkan, budget untuk Yudikatif untuk setahun adalah setara dengan budget untuk sebuah departemen dan anda-anda bayangkan ada berapa departemen dan lembaga non-departemen yg menghisap APBN kita. Jadi kalau kita tetap “miskin”, sekolah tetap mahal, susah cari kerja, keadilan entah mau dicari kemana, menurut gw yang anda-anda tunjuk hidung itu adalah para presiden, wapres, mentri-mentri dan Dirjen-Dirjen serta eselonnya yang semua mendapatkan fasilitas mewah seperti kendaraan dinas (anggota DPR aja gak dapet kendaraan dinas, paling cuma subsidi setengah harga/dibebasin pajak), tunjangan komunikasi, perjalanan dinas dan tetek bengek lainnya diatas pajak-pajak yang anda bayarkan.
Anda-anda pernah ke komp. DPR yang di Kalibata, he..he..he, dari tahun 80 ampe sekarang ya gitu-gitu aja paling cuma dicat sana sini, coba tengok perumahan mentri atau rumah pribadi Dirjen dan eselon departemen, wah bisa netes air liur anda sekalian.
Gw sih gak mihak DPR, karena gw rasa juga agak kelewatan ngadain barang dalam keadaan seperti ini tp kl denger anda-anda nunjuk-2 legeslatif tapi lupa kalau eksekutiflah yang paling bertanggung-jawab atas kegagalan, kehancuran dan kemuskinan yang mendera bumi persada Indonesia ini… I believe u should re-evaluate your thought and opinion.
April 2, 2007 at 4:04 am
@Alfie: kalo aku mempermasalahkan, kenapa kok 21 juta buat 1 laptop? pake alasan kuat, tahan banting, dan garansi lama?
April 2, 2007 at 6:22 am
arul:
andi bagus:
salam kenal juga ndi
Alfie:
Kalopun fakta itu ada, silahkan dibuat artikelnya. kenapa DPR begitu kelihatan “rakus”? karena kebijakan mereka tuh gk logis. kalo di eksekutif ada kebijakan yang gak logis, ya ayo rame2 kita kritik. Toh apa salahnya mengkrititk DPR, orang mereka itu wakil saya (rakyat).
dr:
itu salah satu point.
April 3, 2007 at 4:42 am
Kalau di tempat saya kerja, usia pakai komputer cuma 4 tahun saja. Setelah dipakai selama 4 tahun maka komputer tersebut di-scrab. Karena masa kerja DPR adalah 5 tahun, maka laptop tersebut mustinya sudah di-scrab paa saat selesai masa kerjanya. Laptop scrab tersebut bisa dilelang dan hasil lelang masuk kas negara.
Jadi yang menjadi masalah bukan laptopnya tetapi spesifikasi dan harganya yang terlalu tinggi. Kalau hanya untuk ngetik dokumen, berinternet dan ber-email, laptop seharga 6-8 jutaan sudah cukup. Kalau anggota DPR punya laptop kan mereka bisa diwajibkan untuk memiliki e-mail sendiri yang bisa menjadi sarana komunikasi dengan konstituennya. Bagi yang sudah melek TI bisa diwajibkan memiliki website sendiri atau sekurang-kurangnya memiliki blog. Nah kalau sudah seperti itu, kan kritik dan saran dari para bloger macam wadehel dll tentang praktek bernegara lebih berpeluang untuk bisa sampai ke mereka. Soal ditanggapi atau tidak, itu perkara lain lagi.
Terimakasih dan salam eksperimen.
April 4, 2007 at 3:12 am
@antobilang
di gedung DPR ada WiFi ya pastinya?
hehe..ati2 lho…ntar isi blog ini dibaca sama si dewan yang tidak terhormat itu…
jangan takut … laptopnya belon nyampe !
lagi pula, kalo dah nyampe mereka kan harus ikutan pelatihan dan ujian sertifikasi dulu biar kompeten gitu …
ato mungkin, ada warga sini yg mo ngasih tutorial dan pelatihan singkat soal bikin blog dan bikin trackback !
wakakkakakaaa …
April 12, 2007 at 3:45 am
Biaya kampanye belum sebanding dengan laptop mas. Masih harus terus mencari untuk impas dan selanjutnya untung. Kan DPR itu sama dengan lot pasar. Dibeli untuk mencari untung yang lebih besar.
May 16, 2007 at 3:49 pm
mending laptopna bwat aku..