Entah darimana dan kapan tradisi arak-arakan keliling kota ketika menyambut berita kelulusan dimulai. Tapi sayangnya, hal itu sudah membudaya di kalangan pelajar di Indonesia. Tanpa konvoi, mungkin bagi mereka terasa seperti nulis artikel di blog tanpa di pubish, hambar banget kan?
Seberapa penting
Merayakan kegembiraan bukanlah hal yang dilarang, Tuhan tidak mungkin menciptakan kegembiraan ketika merayakanya adalah dilarang. Sehingga, akupun berpendapat bahwa merayakan kelulusan itu sangat penting dan harus dilakukan. Kalo melihat load memory temen-temen peserta UN yang sebenernya gak terlalu besar dalam mempersiapkan UN, maka tingkat urgensitas dalam merayakan kelulusan UN itu pastilah tinggi, two tumbs up kalo kata Dek Titi Kamal
.
Sekarang yang jadi masalah adalah model perayaanya itu sendiri, kenapa harus dirayakan dengan latar belakang foya-foya dan terkesan urakan? Padahal kalau kita itung-itung masih banyak hal positif yang bisa mereka lakukan untuk sekedar menggantikan kegembiraan semu waktu corat-coret baju.
Saipa yang bertanggungjawab?
Euforia yang gak jelas, padahal masih banyak hal laen yang juga gak kalah serunya daripada “hanya” konvoi sambil teriak-teriak, bahkan kadang tanpa sadar telah mengganggu ketertiban lalulintas. Salahkah? ah salah benar hanya milik Allah, tapi yang jelas mereka gak mungkin melakukan hal itu kalo bukan karena kita juga (sebegai generasi yang lebih dulu lulus dari sekolah berbangku, saya juga jadi merasa bertanggung jawab
). Masa-masa SMA kebawah, kebanyakan kita masih menganut asas taklit-buta (taklit = mengikuti, buta = pic*k), jadi kita masih seneng-senengnya mencontek apa yang dilakukan orang lain (ups…sekarang aja masih seneng nyontek, tapi udah lebih intelek dikit
), lebih-lebih orang yang kita anggep lebih oyeh, dan senior memiliki kans besar untuk ditiru oleh adek-adeknya.
So.. Jangan hanya membebankan tanggungjawab di pundak mereka, karena siapa tahu, figur yang mereka “teladani” adalah kita. Kalau kita menganggap hal yang temen-temen diatas itu kurang faedah, ya kita juga berarti yang harus bertanggung jawab meluruskanya.
Take Action
Mengingat iklim pendidikan (saya bilang iklim lo ya, bukan sistem
) di Indonesia yang cenderung mematikan kreativitas siswa, maka kecil kemungkinan akan munculnya siswa yang kreatif dan punya nyali buat mengajak kawan-kawanya untuk menyalurkan euforia kelulusan pada suatu kegiatan yang bermanfaat. Sehingga pilihanya untuk sementara ada empat :
- Menunggu zaman yang disana muncul siswa kreatif dan bernyali secara sporadis, yang akan mengubah budaya perayaan kelulusan secara serempak dan konsisten.
- Menunggu pemerintah membenahi iklim pendidikan sehingga memacu tercapainya opsi pertama.
- Membiarkan yang terjadi sekarang, dan mempersiapkan generasi junior kita (anak-anak kita) untuk jadi agen perubah dimasa datang.
- Menjadi virus untuk menyebarkan ide-ide untuk merayakan kelulusan yang bijaksana.
Opsi 1 oke, tapi kelamaan. Opsi 2 kelamaan juga, mending pemerintah sikatin dulu tuh koruptor-koruptor
. Opsi 3, itu selemah-lemahnya iman
, dan baru bisa dicapai 15 tahunan lagi. Dan ternyata, tanpa sadar kita juga bisa sedikit mengubah iklim pendidikan di Indonesia dengan melakukan opsi 4, yaitu memberi masukan ide, dan biarkan temen-temen yang dimasukin yang mematangkan ide tersebut.
Roda perubahan gak mungkin bergulir dengan begitu saja, harus ada motor yang menggerakkan roda tersebut.
Ide-ide
Kalo aku ditanya, aku bakal pilih yang no 3
tapi sebernya pengen pilih yang nomer 4. Jadi ini ada beberapa ide untuk temen-temen buat ngerayaan kelulusanya.
- Setelah baca penguman, langsung kumpul untuk bareng-bareng ndonorin darah ke PMI (gak sakit kok..
). Ini juga bisa dipakai buat konvoi, tapi karena mau donor jadi konvoinya yang santun, biar gak didoain orang pas donor susternya salah tusuk
. - Uang bensin yang tadinya mo dibuat beli bensin pas konvoi, dikumpulin. Trus disumbangin ke panti asuhan.
- ……
- Dll
Bagi blogers yang lain yang punya ide?
Gambar diambil dari jawapos.com




June 17, 2007 at 10:16 pm
Darah muda… yah kayak gitu….. sebenarnya personal approach secara akhlak itu yang harus diberikan oleh pengajar ke muridnya, selain ide-ide di atas.
Dan paradigma untuk adik-adik yg lulus tahun depan itu harus dihilangkan
Mungkin salah satu penyebabnya adalah UNAS, yang tetap menjadi kontroversi pendidikan.
June 18, 2007 at 3:52 am
yah begitulah. konvoi melulu. btw… kalau konvoinya kita arahkan jadi konvoi “educational, intelektual” kan malah bagus? konsep lama sih. hehhehe.
btw: kk, ijinkanlah saya menempelkan blog anda pada blogroll saya ^ ^
June 18, 2007 at 3:53 am
tau nggak siy… kata pak guruku waktu SMP, yang mlakukan konvoi+corat-coret g’jelas tuh pelakunya dari sekolah pinggiran. sekolah favorit g’gtu. gtw ini bener apa nggak. tapi sekolahku dl g’gtu… (klo adapun cuma seklompok orang, paling2 g’nyampe 20orang)
June 18, 2007 at 8:00 am
Pedagang: Jualan cat semprot aja
Ortu : Cuek aja
Polisi : Bikin repot aja
Siswa : Enjoy aja
Paijo : #&*#$@ ???
June 19, 2007 at 3:36 pm
Titi Kamal-ku yang tersayang bukannya bilang “Megang Bangetzzz”
bentar dulu, kamu jarang baca koran ya akhir-akhir ini? kalo ga salah ada psikolog yang ngomong salah satu faktor kenapa mereka itu mengungkapkan ekspresi kelulusan dengan konvoi gara-gara sistem pendidikan di indonesia yang seperti penjara. ga cuman UNAS yang dibilang si arul aja.
June 20, 2007 at 10:38 am
mas..mas.. itu mas sendiri yang moto? kalo majang poto hasil jepretannya orang.. ditulis namanya yah.. soalna menurutku momentnya pas banget n langka
so… let’s respect them
June 21, 2007 at 7:12 pm
Cara ngerayain kelulusan?
Dulu waktu SMU aku diceburin ke kolam, kebetulan rumah temenku yang ditempati pengumuman ada kolamnya. Untung nggak diumumin di sekolah, jadi nggak diceburin Kali Mas.
Soal coret2 kayaknya dulu di SMU-ku g ada deh (ato aku nggak tahu juga nggak jelas). Seingetku setelah pengumuman kelulusan di rumah temenku itu kita rame2 ke rumah temenku yang satu lagi gara2 dia nggak bisa dateng soalnya sakit.
Tapi bukannya menghibur tambah ngabis2in makanan…
Wakakakaka….
*serius mode*
Halah konvoi juga cuman setahun sekali, baju seragam yang dicoret2 cuman satu. Kenapa mesti repot?
Kan kita ngelihatnya “Anak SMU konvoi” padahal setiap tahun lho orangnya beda-beda.
Maksudnya kita kan ngelihatnya kok setiap tahun kok mesti konvoi nggak ada cara lain aja?
Setiap tahun lho yang lulus beda2. Sekali dalam 3 tahun mo hura2, konvoi, coret-coret baju satu kan gpp.
Proporsional aja lah!
*serius mode:off*
Welcome back Ucup!!!
June 23, 2007 at 1:58 am
mereka bakal nyadar ketika semester 6 besok
July 3, 2007 at 6:38 am
Sebetulnya kita semua bertanggung jawab terutama guru dan pihak sekolah serta orang tua sehingga muncul generasi yang lebih suka foya-foya dan hura-hura. Namun kalau semua orang mau berpartisipasi dan mengantisipasi hal ini sedini mungkin, mungkin hal ini bisa diminimalisasi.
Misalnya Sekolah melalui guru dan kep. sekolah, OSIS serta orang tua murid jauh-jauh hari sebelumnya mempersiapkan sebuah kelulusan dengan mengadakan acara seperti donor *seperti ide diatas*, mengunjungi pusat rehabilitasi, syukuran bersama diaula atau tempat ibdah sekolah atau sekedar kunjungan ke panti-panti..