“Siang Pak”
“Siang”
“Tolong SIM dan STNK-nya Pak”
Pak Polisi itu membuka-buka STNK dan SIM-ku, pandanganya berhenti agak lama pas mbaca SIM-ku. “Sial, masak SIM-ku wes mathek, padahal baru tak perbarui deh”.
“Dari McGetan Pak?”
“Iya”, jawabku. Untung aja aku ga nyeletuk, “Tahu darimana pak?”
“Ga kena tanah longsor pak? Saya Dari Madiun, tempat saya kena Banjir”.
“Ooo…Alhamdulillah daerah saya aman pak, dan mudah2an musibah di tempat bapak bisa segera diatasi”.
Setelah diberi hormat, aku bersama rombongan segera melanjutkan perjalanan.
Memang akhir-akhir ini musibah datang silih berganti, laksana ombak yang tak kunjung habis. Azab?
Musibah itu mungkin cobaan, tapi itu berlaku cuma untuk segelintir orang.
Seandainya musibah2 itu memang diturunkan Yang Maha Kuasa sebagai azab, berarti kita memang kaum yang cukup bengal sehingga perlu didatangkan azab secara simultan. Entah momen inersia kita terlalu besar sehingga perlu ratusan musibah lagi untuk membuat kita bisa bergerak.
Apalagi kalau ditilik, musibah yang kerap melanda negeri ini, juga tak lepas dari busuknya perilaku sebagian penduduknya. Mulai dari pembalakan liar, pembukaan lahan berpindah, buang sampah sembarangan, merpakan tindakan gak bertanggung jawab yang mungkin dijadikan oleh Yang Maha Kuasa sebagai perantara untuk menghukum kita.
Itu baru sebagian musibah yang sudah terlihat. Perlu juga diwaspadai musibah lain yang belum terlihat. Penggundulan hutan selain membuat tanah jadi gak produktif dalam menyerap air, juga membuat udara negeri ini semakin kotor. Kotor karena udara hasil knalpot kendaraan bermotor tak lagi mampu disaring oleh daun-daun pepohonan di negeri ini.
Yah g salah kalo alam semakin hari semakin rusak, lawong kitanya kurang bisa menjaga kelestarian alam. Blom lagi kalo disangkutpautin sama isu global warming.
Mau tetap bergulat dengan musibah demi musibah? Semuanya bergantung dari kita.
next isue: Global Warming




January 5, 2008 at 10:26 pm
lho polisinya kebanjiran ya?
January 6, 2008 at 6:29 am
bangkit lagi cak?
yah kita harus bijak terhadap alam, saat ini mungkin ngak kena tapi suatu saat ketika tidak dijaga akan memberikan dampak luar biasa.
January 7, 2008 at 1:59 pm
kita begini, karena alam begitu?
January 7, 2008 at 2:54 pm
Aku ingin begini aku ingin begitu
Ada bencana yang emang inevitable kayak gempa, badai, angin puting beliung ato gunung meletus.
Ada yang bisa diatasi kayak banjir, longsor dll.
Jadi inget wawancara korban longsor sama TV swasta:
Wawancara : Apa bupati sudah memberi bantuan bibit pohon untuk ditanami di bukit ini?
Korban : Sudah pak, tapi kami kembalikan lagi, soalnya apa untungnya nanem pohon, mending ditanamin palawija.
Wawancara : Nah sekarang gimana?
Korban : Ya maunya nanem pohon pak
kurasa kata-kata, “I told you so” nggak cukup….
January 8, 2008 at 6:26 pm
haiyah… kayaknya polisi kudu dapat resolusi di tahun 2008 ini yach hehehehe
January 11, 2008 at 6:33 pm
alam hanya tunduk pada 1 orang saja
yakni
FETI VERA
*kabur*
February 12, 2008 at 3:27 pm
lho..cerita tentang SIMnya kok ngga ‘berlanjut’?
*hukum kesamaan dalam interpersonality
February 21, 2008 at 1:14 am
Wah, kotaku sudah penuh dengan asap. Seminggu lagi gak akan ada penerbangan dan pelayaran.
Mau makan apa kalau bahan pangan masih harus impor dari Jawa.
Kalimantan Tengah kan jarang penduduknya mau bertani. Maunya memanfaatkan/menyerakahi hasil alam.
Habis kayu, pasir, emas, pasir besi. Sekarang gambut pun di/terbakar.
March 3, 2008 at 9:40 am
ngeri pek postingan’e
terbuaek guru ..
July 18, 2008 at 12:56 pm
alam?
sebelum menciptakan alam, Tuhan menciptakan sapa hayooo?
menciptakan vettyverra.
Soo, Alam begini, karena vettyverra begitu..
salam kenal dari saya.
August 23, 2008 at 9:42 am
bencana ada karena kita berencana dengan sekenanya….
April 20, 2009 at 4:50 am
ada sebab ada akibat. itulah hukum alam
April 20, 2009 at 4:51 am
jangan salahkan alam dia hanya seorang penyanyi
September 6, 2009 at 7:27 am
nice blog..
salam kenal
Harmendo
at ” memen.wordpress.com “