Ormawa, Buat Apa Sih?

kebanyakan anak SMU pasti mikir jadi mahasiswa itu enak. Karena dengan limit pengalaman dan pengetahuan mereka tentang dunia perkuliahan, kebanyakan mereka hanya akan membandingkan keterkungkungan mereka dalam sistem sekolah, dengan “kebebasan” yang mereka lihat dan dengar yang dimiliki mahasiswa. Contoh gampangnya, mahasiswa bisa “bebas” pakai baju model apapun ke kampusnya, boleh ngegondrongin rambut buat yang cowo’, boleh ngecat rambut, boleh merokok di kampus (di sekolahku ga boleh soalnya), dan sejubel alasan yang lain.

Alasan-alasan tersebut jatuh tak jauh dari pohon kebutuhan remaja, yaitu penampilan yang wah. Tapi tak jarang juga ada yang menilai bahwa kelebihanmenjadi mahasiswa itu dikarenakan mahasiswa bisa menyalurkan bakat dan hobinya di lingkungan kampus dengan sangat bebas. Segambreng fasilitas mulai dari alat-alat kesenian sampai instrumen-instrumen keorganisasian di sediakan oleh kampus, begitu pikir teman-teman kita itu.

Sampai disini asumsi tersebut masih bisa dibenarkan, nyatanya memang banyak fasilitas kampus yang diperuntukkan pada mahasiswa guna menunjang hobinya. Dalam hal keorganisasian misalnya, mulai dari ruang sekretariat sampai pada pendanaan kegiatan dan juga kebutuhan-kebutuhan lain yang berbau materiil bisa diberikan oleh pengelola kampus. Akan tetapi apakah kehidupan kemahasiswaan bisa dengan berjalan dengan baik jika hanya ketika kebutuhan fisiknya saja yang tepenuhi tanpa dibarengi dengan menafkahi kebutuhan batinnya? tentu tidak, keduanya haruslah ada dengan proporsi masing-masing.

Ketika ruang sekretariat yang diberikan kampus saya pandang sebagai kebutuhan fisik, maka peraturan yang mengikat kehidupan kemahasiswaan [langit:keorganisasian di tingkat mahaiswa] saya sebut dengan kebutuhan non fisik. Dan sayangnya peraturan-peraturan inilah yang kadang memberatkan kehidupan kemahasiswaan. Mungkin zaman sekarang terlihat lebih moderat dibandingkan dengan ketika berlakunya NKK/BKK di masa orde baru. Dimana Dewan Mahasiswa yang menjadi poros perlawanan terhadap bercokolnya kembali rezim orede baru, dibungkam oleh rezim tersebut yang memang sedang berkuasa. Tapi tetap saja, ketika masih ada penguasa di tingkat manapun yang menganggap ormawa [langit: organisasi kemahasiswaan] adalah organisasi yang tidak berguna atau bahkan mengancam, maka aturan-aturan semacam itu pasti tidak akan pernah berhenti menghantam ormawa.

Dilihat dari sudut pandang mahasiswa, kehidupan kemahasiswaan masih tetap harus dipertahanakan sesuai dengan fungsi dan kodratnya, yaitu untuk membetuk mahasiswa yang sadar akan fungsi dan perannya sebagai mahasiswa. Karena dari sanalah mahasiswa bisa belajar dan mengembangkan skill non akademis mereka. Ketika ormawa hanya berperan untuk meningkatkan iklim akademis saja, maka kampus hanya akan melahirkan robot berdaging, yang hanya kompeten dalam hal keprofesian thok.

Sayangnya, banyak peraturan-peraturan baru yang mengarah ke sana. Peraturan yang hanya mencocok hidung mahasiswa untuk hanya berpikiran cepat lulus dengan IP bagus.
Ormawa memang tidak bisa seenaknya sendiri, tentu harus ada aturan yang mengaturnya, sebuah aturan yang menguntungkan semua pihak. Bukan aturan yang hanya membuatnya seperti sapi perah yang hanya diambil susunya saja. Ketika hal itu terjadi, maka ormawa sudah mati, yang ada hanya kelompok belajar mahasiswa yang kadang bisa membuat sebuah kegiatan.

Advertisements

8 Responses to “Ormawa, Buat Apa Sih?”

  1. d' Says:

    cuma mau ngomentarin paragraf yang pertama doang…:D
    bener banget deh… waktu sma, mikirnya jadi anak kuliahan tuh enak… blajarnya lebih nyantai. ini gara terpengaruh ma sinetron2 g’mutu itu… abis distu kliatannya anak kuliahan nyante banget…. isinya hang out mulu…:p

    kenyataanya g’gtu..:( mang jadwalnya g’sepadat wktu skul dl.. tp tugasnya….. :((

  2. kakilangit Says:

    1. d’: mang kebanyakan anak sma mikir gitu kok..aku juga dulu mikir gitu..

  3. Goio Says:

    hummm… aku lupa waktu SMA mikir mahasiswa itu kayak gimana, tapi masih inget yang ini.. waktu kuliah, ngeliat orang kerja kayaknya enak deh.. bisa punya duit, bisa dapet pengalaman banyak, hands-on experience, aplikasi ilmu bla bla bla …. pada beberapa sisi betul, pada sisi lain.. tidak juga ternyata…

    yang kuliah pengen cepet lulus biar bisa kerja …
    yang udah kerja pengen balik lagi ke jaman kuliah…
    yang takut sama dunia kerja, melanjutkan kuliah namun tanpa tujuan yang jelas

    jadi mahasiswa itu enak lho, cukup dewasa untuk melakukan banyak hal… namun belum terlalu dewasa untuk diminta pertanggungjawabannya untuk beberapa tindakannya :)…

  4. kakilangit Says:

    3. Goio: tepat sekali mas…tapi kalo udah jadi mahasiswa ada 2 pilihan (mungkin lebih):
    1. jadi mahasiwa2an
    2. jadi mahasiswa beneran.
    klo pilihan yang pertama yang diambil, wah jadi mahasiswa emang paling enak sedunia, duit minta ke ortu, kuliah bisa dibuat nyante..sip wes. tapi klo yang kedua, ternyata banyak loh tanggung jawab mahasiswa itu, yang katanya tertuang di peran dan fungsi mahasiswa (itu katanya lho….). 😀

  5. dianika Says:

    Ormawa… itu bagian dari nafas keseharian saya semasa mahasiswa. Menyenangkan karena kita diajak untuk memahami sisi lain dari sebuah titel bernama mahasiswa. Sisi lain dari kehidupan sosok bernama agen perubahan.

    Di ormawa kita diajari banyak hal yang sering tidak kita dapatkan di bangku kuliah. Tetapi, sedalam apa yang didapat, sesuai dengan pilihan sedalam apa kita berminat sekaligus berniat menceburkan diri.

    Di ormawa, nafas saya pernah berjalan. Menjadi ketua divisi advokasi (cie..sombong dikit nih..) lembaga pers mahasiswa dan ketua bakat minat mahasiswa. Saat itu saya ngasih tahu bagaimana bersikap sebagai mahasiswa. Ada kalanya kita boleh tenggelam di dunia ormawa, ada kalanya kita bener2 harus duduk manis di bangku kuliah. Meskipun seringkali saya ngorbankan kuliah demi mengikuti acar di luar kota..

    Di ormawa, kita bisa belajar, belajar, dan belajar…

  6. urbanus avelb Says:

    saya pernah menjabat sebagai ketua UKM(unit kegiatan mahasiswa) bidang kerohanian periode 2005/2006 dan koordinator divisi pelatihan dan pengembangan periode 2006/2007. berdasarkan pengalaman tersebut, menurut saya kelemahan ormawa salah satunya terletak pada sistem pengembangan anggotanya kurang terencana secara baik. kalaupun ada training kader itupun tidak bermakna.

    idealnya training-training yang dibuat oleh ormawa harus benar-benar mampu meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja para pengurus ormawa. jadi tidak ada acara kaka kiki dalam pelatihan-pelatihan yang dibuat.

    kalo ormawa secara serius mengembangkan anggotanya kiranya aktivis akan berdaya saing bagus, dan siap kerja.

  7. abe_pc Says:

    opo kui ormawa???aku ra mudeng…kok ketok e marai emosi…

  8. Diyanda Says:

    ormawa itu adalah organisasi mahasiswa,ada UKM(unik kegiatan mahasiswa),BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa),Hima(Himpunan Mahsiswa) dll

    Ormawa sangatlah penting menurut gw,karna adanya ormawa mahasiswa bisa mencanangkan tiga hal solidaritas,loyalitas,totalitas
    Tapi sampai skrg masih bnyk para mahasiswa yg menggap itu hal sepele sebenarnya dari ormawa lah kita belajar berkomunikasi dan berbirokasi untuk kemajuan kemampuan kita di bidang soft skill karena ilmu di saat kul hanya 20% yg di pakai di dunia kerja buktinyangelamar kerja di mana aja harus pake training dulu,,,

    MAJUKAN NEGRI INI LEWAT MAHASISWA AKTIF BUKTIKAN LOYALITAS KITA SEBAGAI MAHASISWA!!!!
    😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: