“Swastanisasi” Instansi Pelayanan Publik

Semua ini berawal ketika aku mau majekin motorku tersayang, ternyata ruwet birokrasinya. Sampe ada seseorang nyeletuk,” Mau mbayarin negara aja kok dipersulit!”. Sebuah reaksi spontan yang sebenernya juga diteriakkan oleh hatiku. Entah kenapa, setiap aku ngurus yang begituan, ujung-ujungnya pasti ngeluh, bukan saja karena pegawainya judes-judes, tapi lebih karena pelayanan yang kurang costumer oriented.

“lho pak, saya gak perlu cap jempol ya?”

“Mas-mas, sudah untung sampean itu saya permudah urusanya, atau memang mau saya suruh cap jempol” 👿

Itu percakapan yang aku dapet ketika aku ngurus perpanjangan SIM beberapa waktu lalu. Terus terang aku lebih milih harus cap jempol lagi dengan diiringi senyuman pegawainya daripada harus menghemat 30 detik tanpa cap jempol tapi hati dongkol karena judesnya pegawai.

Sebagai customer, tentu pelayanan adalah nomer satu. Tapi sayang, instansi-instansi pemerintah yang mengurusi berbagai macam pelayanan public tidak pernah menganggap kita, masyarakat, sebagai customer mereka. Karena dengan model pelayanan macam manapun, kita tetep harus bin wajib kembali kesitu lagi. Mau ngurus SIM, ya harus ke kepolisian, mbayar pajak motor, harus ke SAMSAT. Gak ada alternatif ketika kita tidak terpuaskan di masing-masing lembaga. Karena itulah, antrean pelanggan ketika perpanjangan SIM masih saja panjang, walaupun pelayananya terkesan asal ada.

Kejadian seperti diatas sangat jarang terjadi di perusahaan-perusahaan swasta yang notabene saling bersaing untuk mendapatkan simpati pelanggan. Semangat itu yang selama ini belum muncul di lembaga pemerintah yang menyediakan jasa pelayanan public, semangat untuk memuaskan pelanggan.

Untuk menumbuhkan semangat tersebut, mungkin sangat susah dengan iklim bekerja para pegawai negeri yang bekerja di instansi pelayanan publik saat ini. Mereka sudah sangat nyaman dengan posisinya, tanpa takut di-PHK hanya karena membuat customer mencak-mencak. Mungkin hal pertama yang harus dilakukan adalah membongkar paradigma tersebut, caranya, dengan memberikan reward serta punishment yang tegas terhadap kinerja mereka di level yang bersentuhan langsung dengan customer.

Wah-wah..kalo reward-nya berupa uang, bisa jadi ladang korupsi lagi nih 😈 . Ya kalo memang begitu, rewardnya g usah, punishment-nya saja yang dipertegas :mrgreen: .

Atau dengan merekrut para praktisi bisnis, yang ahli dalam managemen konsumen, untuk ditempatkan dalam posisi stratgis di instansi pelayanan public tersebut tanpa harus menjadi pegawai negeri. Mereka hanya bertanggungjawab merancang sistem pelayanan yang costumer oriented dan menjaganya agar tetap berjalan pada rancangan yang sudah dibuat.

Kalau outsourcing praktisi bisnis benar-benar diimplementasikan, kayaknya bakal ada yang demo deh.. 😐

Pasti banyak cara yang bisa dilakukan agar pelayanan public di negeri ini bisa membaik. Dengan kualitas pelayanan yang memuaskan, tentu akan memperbaiki citra instansi-instansi tersebut, yang sekarang sudah agak memudar. yang jelas, ketika pelayanan memuaskan, instansi-instansi tersebut bisa menghemat anggaran untuk membali spanduk yang bertuliskan,”Jangan pakai calo”.

Memang hanya calo yang untung ketika model pelayanan public di negeri ini terpuruk seperti sekarang. Toh, calo tetap bakal jadi pilihan alternatif kita ketika memang pelayanan di suatu instansi tidak memuaskan.

Usulan anda?

Kosa-kata aneh:

Majekin : membayar pajak.

8 Responses to ““Swastanisasi” Instansi Pelayanan Publik”

  1. arul Says:

    bukannya sistemnya sudah satu atap malah ad drive thrue nya?

  2. neen Says:

    pernah dengar swastanissi NGO/LSM g??
    Percayalah, hal itu juga pernah/sedang terjadi…..

  3. kakilangit Says:

    arul:
    yup, satu atap kan tempatnya, tapi (kalo di McGetan sih..) prosedurnya masih ribet. Tapi memang ada beberapa daerah yang bisa membuat inovasi untuk mempermudah proses pelayanan, misalkan dengan drive tru, tapi sayang, pemerintah sendiri g peduli dengan standard g punya standard yang oke yang bisa dipake di semua daerah.

    neen:
    oya..yang aku maksud itu bukan swastanisasi dalam arti sebernya, tapi lebih pada penerapan pola pokir perusahaan swasta yang masih butuh untuk menghargai costumer

  4. neen Says:

    Yang ku maksud swastanisasi NGO jg bukan dalam arti sebenarnya, tapi pada perubahan MISI dan VISI dari sebuah NGO yang harusnya memberikan kontribusi yg baik pagi khalayak tapi pada beberapa kasus justru dijadikan sebagai mesin pencetak uang bagi pendiri, pemrakarsa atau pengelolanya. Ini terjadi di salah satu NGO nasional t4 aku bekerja.

    *lirik kanan lirik kiri*

  5. doeytea Says:

    Memang mengubah perilaku dan pola pikir aparat birokrat itu bukan masalah mudah. Perlu dilakukan reformasi birokrasi dalam segala aspek. Bahkan mungkin perlu “membuang” aparat-aparat yang tidak produktif dan tidak bermutu. So, beranikah pemerintah dan DPR mengambil langkah-langkah radikal mereformasi birokrasi? Padahal langkah ini termasuk tidak populer di mata masyarakat.

  6. koecing Says:

    hohoho.. g’bareng ma adek seh…

  7. kakilangit Says:

    neen:
    Yah..itulah indonesia, orangnya banyak yang punya skill untuk cari kesempatan di tengah kesempitan. mudah2an mbak neen bisa mempengaruhi teman2 kerja mbak neen ke arah yang lbih baik 😀

    doeytea:
    itu dia mas, masalahnya mereka itu (kayaknya sih), saling berhutang budi. yang pemerintah, dulu pas jadi pemerintah dibantu sama DPR, nha yang DPR jadi DPR karena juga dibantu orang2 yang di pemerintah itu (asumsi ngawur.. :mrgreen: )

    koecing:
    abis dirimu jauh sih pus… 😀

  8. pamit sebentar « stand up!!! Says:

    […] pamit sebentar waktu sodara baca post ini, mungkin aku udah ada di Semarang, pulang kampung. bukan cuma karena sekedar pengin, ato rindu kampung halaman, tapi untuk menunaikan tugas negara : perpanjangan STNK sepeda motor […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: