Introducing a New Page

Cuma pengumunan kok.. Read the rest of this entry »

Siapa Cepat, Dia Dapat

Buat mahasiswa yang kuliah di Surabaya, siapa yang gak kenal dengan warung kopi gresik. Warung jajanan yang tak lengkap kalo gak ada kopi, goreng-gorengan, dan tentu saja koran. Dulu, salah satu motivasiku pergi ke warung gresik ya buat mbaca koran, nomor dua baru buat nyikat jajanan yang ada disitu. Tapi seiring dengan mengecilnya otot kakiku karena terlalu sering berinteraksi dengan komputer, aku jadi jarang ke warung gresik. Dan kebiasaan mbaca koran aku lampiaskan lewat internet aja (bisa tambah kecil nih kaki :mrgreen: ). Read the rest of this entry »

Sekarat Setelah Mati

Dua bulan terahir ini, otak terasa sangat berat untuk diajak kompromi. Bahkan hanya sekedar mengkonsumsi berita di koran dan tivi udah muak, apalagi untuk meciptakan sebuah berita baru yang harus menghiasai layar di kakilangit. “Ah…terlalu muluk kamu ini…”, begitu guman otak kreatifku. Masih ingat kasusuku yang ini? Peristiwa itu kini terulang lagi, tapi bukan mengenai yang-terhormat-tcinta, melainkan sekedar ketakutanku untuk menulis apa-apa yang selama ini aku rasakan, yang mungkin sudah mulai membusuk dan meracuni otaku. Read the rest of this entry »

Polisi di Mata mBah Sastro

polisi brutalPernah suatu ketika dalam sebuah perjalanan dari kota Magetan tercinta menuju kota Pahlawan, aku bertemu dengan sesosok lelai yang sudah cukup berumur. Penampilanya sangat sederhana, dengan baju garis-garis putih yang sudah meulai usang dimakan usia, ditambah topi khas model kupluk yang sering dipakai lelaki seusianya. Semakin menambah kesan sederhana dan bersahaja. Sorot matanya tajam, berbeda dengan banyak wajah yang siang itu mulai menggerutu dan mengutuk panasnya bis kota. Lelaki itu duduk di depanku.

“Ya yang bolpennya pak, model baru pak gak pake tinta, silahkan dicoba, warna dan corak bisa dipilih”.

Salam khas pedagang asongan kala itu, telah merusak lamunanku, yang pada ahirnya membawaku pada sebuah percakapan yang syarat akan pesan. Read the rest of this entry »

Militerisme Beda Dengan Premanisme

Banyak yang bilang kalo kasus meninggalnya Cliff Muntu yang terjadi di IPDN baru-baru ini, berakar pada diterapkanya pola militeristik dalam pola pendidikan di IPDN. Salah besar kalo saya bilang. Militerisme tidak pernah mengajarkan pembunuhan sesama teman, bahkan pada junior-nya. Tentu masih segar pula ingatan kita tentang kasus serupa yang menimpa Whyu Hidayat yang terjadi beberapa tahun lalu. Itukah Militerisme?

Kalau dilihat dari track record ini, terlihat sekali bahwa gelar premanisme lebih cocok untuk IPDN dari pada militerisme.

Bagaimana menurut anda?

Cobaan Gender?

Face EmoticonSuatu ketika, naluri penjelajahanku menemukan sebuah blog yang unik. Extrovet tapi inspiring. Beberapa artikel yang dimuat, diantaranya tulisan yang ini, lalu yang itu dan yang itu lagi, sempat membuatku terbelalak 😯 begitu beratnyakah menjadi seorang wanita? Apakah Tuhan memang menciptakan berbagai cobaan bagi wanita sehingga mereka mendapatkan posisi 3 tingkat diatas seorang laki-laki? Mulai dari perihnya datang bulan, sampai pertaruhan nyawa ketika melahirkan, belom lagi kalo masih dipoligami dengan tidak adil, semuanya membuat komplit penderitaan kaum hawa. Padahal, bagi kaum adam, paling-paling cuman ngerasaain sakitnya dikhitan 😀 Read the rest of this entry »

Realita Cinta dan Idealisme Bloger

Ketika dulu pertama kali membuka account di wordpress, aku sempat bingung.

“Mau aku isi apa nanti blogku ?”

Sebuah pertanyaan sederhana yang bergejolak di hampir semua benak para bloger angin-anginan seperti saya, yang mau nge-blog karena ikut-ikutan. Makanya blog ini pernah mangkrak hampir satu tahun lamanya. Ngapain aja aku selama itu, selain karena sempat males sih, ada juga alasan yang lebih oyeh, me-redefinisi tujuanku membuat blog waktu itu. Read the rest of this entry »